Militer Israel mengonfirmasi keberhasilan operasi presisi yang menewaskan pemimpin militer Hamas, Haddad, di Kota Gaza pada Jumat (15/5/2026). Serangan udara yang menargetkan sebuah gedung apartemen ini terjadi di tengah upaya gencatan senjata yang rapuh, memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut dalam konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di Jalur Gaza. Kematian Haddad, yang dikenal luas dengan julukan "The Ghost" karena kemampuannya lolos dari berbagai upaya pembunuhan, merupakan pukulan signifikan bagi struktur komando Hamas.
Sumber-sumber Palestina mengonfirmasi bahwa Haddad gugur dalam serangan tersebut, yang juga merenggut nyawa istri dan putrinya yang berusia 19 tahun. Tragedi ini menambah daftar panjang korban sipil dalam konflik yang tak berkesudahan. Prosesi pemakaman massal untuk Haddad dan keluarganya diselenggarakan keesokan harinya di Masjid Al Aqsa Martyrs, Gaza tengah, dihadiri ribuan pelayat yang memadati jalanan.
Insiden pada Jumat tersebut bukanlah satu-satunya serangan. Data dari sumber medis Palestina mencatat sedikitnya tujuh warga Palestina tewas dalam dua serangan terpisah pada hari yang sama, termasuk tiga perempuan dan satu anak-anak. Angka ini menggarisbawahi dampak mematikan dari operasi militer di wilayah padat penduduk tersebut, di mana korban jiwa terus berjatuhan dari kedua belah pihak.
Sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober sebelumnya, sekitar 850 warga Palestina telah tewas, menurut data yang tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil. Di sisi lain, dalam periode yang sama, militan Hamas bertanggung jawab atas kematian empat tentara Israel. Angka-angka ini mencerminkan tingginya biaya kemanusiaan dari konflik, yang terus memakan korban dari warga sipil tak berdosa.
Haddad sendiri merupakan figur kunci dalam hierarki militer Hamas, menjabat sebagai pimpinan militer kelompok tersebut di Gaza sejak Mei 2025. Ia mengambil alih posisi yang ditinggalkan oleh Mohammad Sinwar, yang juga tewas dalam sebuah operasi sebelumnya. Julukan "The Ghost" melekat padanya bukan tanpa alasan, mengingat rekam jejaknya yang berulang kali berhasil menghindari upaya pembunuhan yang dilancarkan oleh Israel.
Pemerintah Israel menuduh Haddad bertanggung jawab penuh atas serangkaian serangan terhadap tentara dan warga sipil mereka. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menteri pertahanannya dalam pernyataan bersama secara khusus melabeli Haddad sebagai "arsitek" utama di balik serangan besar pada 7 Oktober 2023, yang menjadi pemicu eskalasi konflik besar di Gaza hingga saat ini. Kematiannya, menurut Israel, merupakan upaya untuk menghentikan ancaman berkelanjutan.
Di sisi lain, kelompok Hamas merespons dengan pernyataan keras, mengaitkan aksi pembunuhan ini dengan ketidakmampuan militer Israel di medan perang. Mereka menyebut serangan presisi tersebut sebagai upaya Israel untuk mencapai tujuan politik melalui pembunuhan, setelah gagal meraih kemenangan signifikan secara militer. Hamas menegaskan bahwa Haddad adalah tokoh kunci dalam operasi militer mereka dan kematiannya tidak akan melemahkan semangat perlawanan.
Pembunuhan Haddad ini terjadi pada saat Israel dan Hamas dilaporkan masih terjebak dalam proses perundingan tidak langsung. Negosiasi tersebut berfokus pada rencana perdamaian pascaperang yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang bertujuan untuk mengakhiri konflik berlarut-larut yang telah berlangsung lebih dari dua tahun. Insiden ini berpotensi merusak momentum perundingan dan memperkeruh suasana, membuat kesepakatan damai semakin sulit tercapai.
Kematian seorang pemimpin militer senior seperti Haddad memiliki implikasi geopolitik yang kompleks. Bagi Israel, ini adalah kemenangan strategis yang dapat melemahkan kapasitas operasional Hamas. Namun, bagi Hamas dan para pendukungnya, ini adalah tindakan agresi yang membutuhkan pembalasan, berpotensi memicu gelombang kekerasan baru. Masyarakat internasional kini menanti, apakah insiden ini akan mempercepat atau justru mengubur peluang perdamaian di kawasan yang sudah lama dilanda gejolak ini.