Terobosan Filantropi BPI Danantara: Danantara Indonesia Trust Siap Atasi Gizi Buruk dan Pendidikan

Jakarta, 25 Mei 2026 – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara resmi meluncurkan lembaga filantropi independen bernama Danantara Indonesia Trust (DIT) di Jakarta. Langkah strategis ini menandai perluasan komitmen BPI Danantara dalam pembangunan sosial masyarakat, dengan fokus utama pada sektor kesehatan dan pendidikan di seluruh Indonesia.

Pembentukan DIT tidak hanya sekadar formalitas, melainkan sebuah deklarasi misi untuk menjawab tantangan fundamental bangsa. Acara peresmian ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama tiga mitra strategis utama: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Karya Salemba Empat, serta Museum dan Cagar Budaya.

DIT memfokuskan program-programnya untuk menyelesaikan isu-isu krusial nasional. Ini mencakup masalah gizi buruk, angka kematian ibu dan anak, isu anak putus sekolah, hingga akses pengetahuan budaya yang belum merata.

Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara, menegaskan visi di balik inisiatif ini. "Melalui Danantara Indonesia Trust, kami memperluas misi kami untuk memperkuat sumber daya manusia dan menjawab tantangan sosial," ujarnya dalam peluncuran yayasan.

Ia menambahkan, "Kami percaya bahwa penciptaan nilai jangka panjang harus berjalan seiring dengan dampak nyata bagi masyarakat." Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi bahwa keberlanjutan investasi tidak hanya diukur dari keuntungan finansial, tetapi juga dari kontribusi positif terhadap kemajuan sosial.

Di sektor kesehatan, kemitraan DIT dengan Kementerian Kesehatan RI akan berfokus pada penanganan masalah gizi serta kesehatan ibu dan anak. Data terbaru dari WHO dan UNICEF tahun 2026 menunjukkan bahwa masih ada hampir 960 ribu anak kategori zero-dose di Indonesia yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali.

Angka ini sangat memprihatinkan, meskipun cakupan imunisasi dasar lengkap nasional telah menyentuh 80,2 persen pada tahun 2025. Selain imunisasi, program kesehatan DIT juga menyasar penurunan prevalensi wasting atau gizi kurang, yang berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 masih berada di angka 7,4 persen.

Baca Juga :  Resahkan Warga, Arena Judi Sabung Ayam dan Dadu di Penajam Paser Utara Dibongkar Tuntas

Intervensi DIT di bidang kesehatan akan diwujudkan melalui penyediaan vaksin heksavalen, yang melindungi dari enam penyakit berbahaya sekaligus. Selain itu, DIT akan memperkuat infrastruktur rantai dingin vaksin, memastikan distribusi vaksin yang efektif dan aman hingga pelosok negeri.

Bantuan juga akan disalurkan dalam bentuk pemberian suplemen Multiple Micronutrient (MMS) untuk mencegah stunting dan menjaga keselamatan ibu hamil. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda dan ibu di Indonesia.

Dalam sektor pendidikan, DIT berkolaborasi dengan Yayasan Karya Salemba Empat (KSE) untuk memberikan beasiswa pendidikan. Program ini akan menyasar sekitar 500 mahasiswa kurang mampu selama tiga tahun.

Inisiatif ini hadir di tengah data Sakernas BPS 2025 yang mencatat sekitar seperlima pemuda Indonesia usia 15–24 tahun masuk kategori NEET (Not in Education, Employment or Training). Selain itu, masih ada 4,1 juta anak usia 7–18 tahun yang tidak bersekolah, menunjukkan urgensi intervensi di sektor ini.

Sementara itu, kolaborasi dengan Museum dan Cagar Budaya diwujudkan melalui pengembangan Perpustakaan Danantara Indonesia Trust di Museum Nasional. Program kerja sama ini dirancang khusus untuk merespons kebutuhan pembangunan nasional yang dinilai paling mendesak, sekaligus melestarikan dan menyebarkan pengetahuan.

Nuraini Razak, Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust, mengungkapkan optimisme terhadap kolaborasi ini. "Melalui kolaborasi ini, program-program tersebut akan menjadi fondasi DIT sebagai platform yang memobilisasi aksi kolektif," jelasnya.

Ia menambahkan, "Kami akan mendorong solusi berskala besar dan menghadirkan dampak nyata di seluruh Indonesia." Pernyataan ini memperkuat harapan bahwa DIT akan menjadi katalisator perubahan positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.