Dokter Onkologi Ungkap Fakta Mengejutkan: Risiko Kekambuhan Kanker Payudara Tetap Tinggi Meski Dideteksi Dini

Kanker payudara terus menjadi momok kesehatan serius di Indonesia, dengan jumlah kasus yang signifikan setiap tahunnya. Namun, di balik upaya deteksi dini dan pengobatan, ada sebuah ancaman tersembunyi yang kerap luput dari perhatian publik: potensi sel kanker untuk kembali setelah pengobatan awal.

Spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, SpPD-KHOM, menyoroti realitas ini dalam sebuah diskusi ilmiah baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa penemuan kanker pada stadium awal, meskipun krusial, tidak serta merta menjamin pasien bebas sepenuhnya dari risiko di masa mendatang.

"Anggapan bahwa tindakan operasi pada stadium awal membuat pasien dipastikan aman untuk seterusnya dinilai kurang tepat," ujar dr. Jeffry dalam acara The 6th Siloam Oncology Summit di Jakarta. Berdasarkan data penelitian, pasien yang terdiagnosis kanker sejak dini masih memiliki peluang kekambuhan sebesar 20-30 persen dalam jangka waktu hingga 20 tahun ke depan.

Faktor pemicu utama kekambuhan ini seringkali berasal dari karakteristik atau jenis kanker itu sendiri. Beberapa jenis kanker payudara memiliki sifat yang lebih agresif dibandingkan yang lain. Dr. Jeffry menjelaskan, "Ada beberapa jenis kanker itu yang memang tumbuhnya lambat dan sifatnya cenderung tidak terlalu agresif. Tapi ada jenis-jenis breast cancer itu sangat agresif. Misalkan jenis tipe HER2 positif atau triple negative, itu kekambuhannya masih akan sangat tinggi walaupun ditemukan di stadium awal."

Fenomena kekambuhan kanker payudara juga semakin sering dijumpai seiring dengan pergeseran usia penderita. Jika dulu penyakit ini mayoritas menyerang rentang usia 40 hingga 50 tahun, kini tren tersebut bergeser ke usia yang lebih muda, bahkan 20-an tahun. Data riset menunjukkan bahwa tingkat kekambuhan berbanding lurus dengan semakin mudanya usia pasien saat pertama kali terdiagnosis.

Baca Juga :  Dokter Imbau Jemaah Haji Waspadai Kaki Melepuh Akibat Cuaca Ekstrem

Pergeseran usia penderita ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan menjadi kecenderungan global. Hingga kini, belum ditemukan faktor tunggal yang secara pasti memicu perubahan demografi ini. Namun, kondisi lingkungan modern diduga kuat turut berperan dalam peningkatan kasus pada usia muda.

"Kita hidup di dunia yang pencetus kanker itu di mana-mana. Misalnya kita pegang handphone tiap hari, itu radiasi. Kemudian kita makan dengan mikroplastik di mana-mana," ungkap dr. Jeffry. Ia juga menyoroti paparan karsinogenik dari ultra-processed food yang kini mudah diakses. Meskipun demikian, ia mengakui sulit untuk menunjuk satu faktor pasti sebagai penyebab tunggal.

Waspada Gejala Tersembunyi dan Pentingnya Evaluasi Berkala

Salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi kekambuhan adalah kemunculan sel kanker di organ tubuh yang berbeda. Ini terjadi karena ada kemungkinan satu atau dua sel kanker yang terlepas dari lokasi primer dan menyebar dalam ukuran sangat kecil, bersembunyi di tempat lain sejak awal pengobatan. Sel-sel ini kemudian membutuhkan waktu untuk tumbuh sebelum menimbulkan gejala.

"Mungkin enggak bahwa ada satu sel atau dua sel kanker yang awalnya misalkan cuma di payudara, tapi mungkin sembunyi. Sudah lepas tapi sembunyi di tempat yang lain. Dan dia butuh waktu untuk tumbuh tiba-tiba munculnya ada di tempat lain," jelas dr. Jeffry.

Yang mengkhawatirkan, kembalinya kanker sering kali tidak memicu tanda-tanda fisik yang jelas jika jumlah sel yang tumbuh masih relatif kecil. Indikasi klinis baru akan terlihat sewaktu sel kanker merusak fungsi organ tertentu yang telah disusupinya. Misalnya, penyebaran ke liver akan memicu gejala penyakit kuning, sementara penyebaran ke paru-paru ditandai dengan batuk darah atau sesak napas. Munculnya gejala fisik ini seringkali menandakan bahwa kondisi kerusakan organ sudah memasuki fase yang lebih berat.

Baca Juga :  Pemerintah Indonesia Matangkan Kesiapan Puncak Haji 2026: Fokus Total pada Tantangan Armuzna

Oleh karena itu, evaluasi berkala sangat penting. "Itu gunanya kenapa saya bilang kita harus lakukan evaluasi berkala, baik itu mau pakai scan, mau pakai PET scan. Supaya kalau kita tahu bahwa ini sudah ada terjadi, kita bisa dapat dalam fase yang lebih awal, tentu ngobatinnya akan jadinya lebih gampang," tegas dr. Jeffry.

Langkah Pencegahan dan Penanganan Personal

Penanganan medis untuk setiap individu kini dirancang sangat spesifik. Hal ini didasarkan pada tingkat keparahan serta variasi genetik pasien, yang dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan next gene sequencing (NGS). Pendekatan personalisasi ini bertujuan untuk memberikan terapi yang paling efektif.

Bagi masyarakat sehat, langkah pencegahan utama meliputi kontrol berat badan, rutin berolahraga, menjauhi rokok dan alkohol, serta membatasi konsumsi ultra-processed food. Skrining dini secara berkala lewat medical check up setahun sekali juga menjadi proteksi terbaik untuk mengantisipasi pemicu kanker yang mungkin tidak diketahui.

"Karena masih banyak faktor X yang kita tidak bisa jawab sebagai penyebab. Artinya kita sudah bisa lakukan semua hidup sehat, tidak rokok, tidak alkohol, berat badan masih ideal, tetap ada yang kena kanker. Artinya kan ada faktor X yang kita tidak tahu penyebabnya," ujar dr. Jeffry.

Bagi para survivor kanker payudara, pengawasan atau surveillance berkala wajib dijalankan setiap 6 bulan atau minimal setahun sekali. Guna memastikan tidak ada sisa sel kanker pascaoperasi, dokter dapat memberikan kemoterapi, obat anti-hormon hingga 10 tahun, imunoterapi, atau terapi target anti-HER2, sesuai kebutuhan pasien.

"Jangan pernah takut untuk periksakan ke dokter pada saat Anda menemukan suatu gejala mencurigakan di badan Anda. Kalau misalkan diperlukan jangan takut untuk lakukan pemeriksaan lanjut seperti biopsi. Satu-satunya cara kita untuk menyatakan bahwa suatu benjolan itu kanker atau bukan hanya melalui biopsi," tandasnya.

Baca Juga :  Nekat Berhaji Tanpa Izin Resmi, Lima Warga Malaysia Dijaring Aparat Keamanan Saudi di Makkah

Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Semanggi kini hadir sebagai pusat rujukan kanker di Indonesia dan Asia Tenggara. Dengan sistem Multidisciplinary Team (MDT), layanan terpadu di rumah sakit ini memfasilitasi deteksi dini hingga pengobatan komprehensif, memungkinkan masyarakat mengakses perawatan berkualitas tinggi tanpa perlu berobat ke luar negeri.