Tere Kobarkan Semangat Solidaritas Palestina di Jakarta: Ajak Generasi Muda Bangun Kesadaran Kolektif

Mantan musisi Annisa Theresia, yang kini dikenal luas sebagai aktivis kemanusiaan dengan nama Tere, memimpin sebuah aksi solidaritas bertajuk Maqdisy Heroes Long March 02 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta. Acara yang berlangsung pada Sabtu pagi lalu ini menjadi seruan lantang bagi generasi muda Indonesia untuk terus menjaga dan menguatkan kepedulian terhadap isu Palestina yang tak kunjung usai.

Sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, turut serta dalam aksi jalan kaki ini. Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Wasilah (Wadah Silaturahmi Ummat), sebuah organisasi yang berkomitmen pada penguatan silaturahmi dan kepedulian umat. Mereka bersama-sama menyuarakan penolakan tegas terhadap genosida dan penjajahan yang dinilai masih terus berlangsung di tanah Palestina.

Tere, dalam orasinya yang penuh semangat, menegaskan bahwa tindakan biadab di Palestina adalah pelanggaran berat terhadap konstitusi negara Indonesia. "Kita semua tahu perbuatan biadab ini melanggar konstitusi negara kita, bahwa penjajahan di muka bumi ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan," tegasnya, merujuk pada pembukaan UUD 1945 yang secara eksplisit menentang segala bentuk penjajahan. Pernyataan ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia yang secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina di kancah internasional.

Aksi ini mengusung tema mendalam: "Mengenang Nakba dan Belajar dari Gaza yang tak Pernah Menyerah." Tema tersebut dirancang untuk memberikan edukasi sejarah yang krusial kepada para peserta, khususnya generasi muda. Peristiwa Nakba, yang berarti "malapetaka" dalam bahasa Arab, adalah momen kelam pada Mei 1948 ketika lebih dari 750.000 warga Palestina diusir dari tanah mereka.

Data yang disampaikan panitia mengungkap betapa dahsyatnya dampak Nakba, di mana zionis Israel mencaplok 77 persen wilayah Palestina. Selain itu, hampir 500 kampung Palestina dibumihanguskan dan sekitar 15.000 warga Palestina tewas dalam serangkaian peristiwa tragis tersebut. Sejarah kelam ini menjadi pengingat pahit tentang asal-muasal konflik yang terus berlanjut hingga kini.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Jawa Timur 14 Mei 2026: BMKG Ingatkan Potensi Suhu Dingin Ekstrem di Batu dan Ancaman Polusi Udara Surabaya

Kondisi serupa Nakba, dengan segala bentuk kekerasan dan pengusiran, dinilai masih terus dialami oleh warga di Gaza maupun Tepi Barat. Situasi kemanusiaan di kedua wilayah tersebut telah memburuk drastis dalam kurun waktu hampir tiga tahun terakhir, dengan blokade, serangan militer, dan pembatasan akses yang terus-menerus. Hal ini menjadikan tema acara semakin relevan dan mendesak.

Selain long march, kegiatan ini juga menjadi penanda dimulainya ajang pencarian bakat Maqdisy Talent Hunt 1448 H. Program ini digagas khusus oleh Tere untuk anak-anak berusia 5 hingga 19 tahun, dengan visi jangka panjang untuk menumbuhkan kesadaran sejak dini. "Insya Allah mereka akan terus dibina agar bertransformasi menjadi pejuang kebenaran yang berani bersuara dan menyerukan pentingnya literasi tentang Baitul Maqdis sejak dini," tambahnya.

Program penjaringan bakat tersebut menargetkan untuk melahirkan 20 anak berjiwa sabar setiap tahunnya. Harapannya, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang kokoh dalam memperjuangkan keadilan dan menjawab pesan-pesan universal tentang kemanusiaan yang terkandung dalam kitab suci. Dalam pelaksanaan di Lapangan Banteng, peserta Maqdisy Talent Hunt dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin oleh pemenang Maqdisy Talent 1447 H, yang bertugas membagikan stiker edukasi kepada publik.

Dukungan terhadap aksi ini juga datang dari berbagai kalangan. Sejumlah tokoh digital, penulis buku, aktivis seni, hingga aktivis buruh turut menghadiri acara tersebut untuk memperkuat dukungan moral. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa isu Palestina bukan hanya masalah politik, tetapi juga masalah kemanusiaan yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat.

Tere menjelaskan bahwa metode syiar melalui jalan kaki yang mereka lakukan meniru metode yang diterapkan pada zaman Nabi di Mekah. Filosofi di baliknya adalah bahwa setiap langkah kecil memiliki makna dan dampak yang besar. "Kesadaran kolektif ini penting untuk menguatkan collective action (aksi kolektif) menuju gerakan global. Setiap langkah kecil memiliki arti besar. Kita tidak akan sampai pada kekuatan berskala global tanpa memulainya dari gerakan sederhana seperti ini," pungkasnya.

Baca Juga :  BBPKH Cinagara Pimpin Transformasi SDM Peternakan, Bekali 38 Skema Kompetensi Kunci untuk Ketahanan Pangan

Aksi kemanusiaan ini juga mendapatkan perhatian dan dukungan langsung dari para orang tua yang mendampingi anak-anak mereka. Salah satu orang tua peserta, Yanuar, menyatakan bahwa kehadirannya bersama keluarga merupakan bentuk nyata dari rasa simpati dan empati terhadap warga Palestina. "Kami hadir untuk mendoakan dan menunjukkan kepedulian atas penderitaan saudara kita di Palestina akibat kekejaman zionis," tutur Yanuar, merefleksikan sentimen banyak warga Indonesia.

Melalui Maqdisy Heroes Long March 02 dan Maqdisy Talent Hunt, Tere dan Yayasan Wasilah tidak hanya menyuarakan solidaritas. Mereka berupaya membangun fondasi kesadaran dan kepedulian yang kuat di kalangan generasi muda Indonesia, memastikan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan Palestina akan terus bergema hingga keadilan ditegakkan.