Kelenteng Tian Fu Gong berdiri kokoh sebagai bagian dari konsep kawasan religi terpadu yang unik di PIK. Konsep ini dirancang untuk menyatukan berbagai rumah ibadah dari agama yang berbeda dalam satu lokasi yang harmonis. Lokasi kelenteng ini hanya berjarak sekitar 70 meter dari Masjid Al-Ikhlas PIK, menciptakan pemandangan kerukunan yang inspiratif dan jarang ditemukan di kota-kota besar lainnya.
Dalam sambutannya, Pramono Anung menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap inisiatif pembangunan kawasan ini. Menurutnya, proyek ini merupakan cerminan otentik dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang majemuk. "Saya menyampaikan karena di tempat ini juga dibangun Masjid Al-Ikhlas, Gereja Katolik, dan kemudian juga tempat untuk peribadatan Buddha (vihara). Persoalan keberagaman, toleransi, dan sebagainya di PIK ini mudah-mudahan bisa terjaga dengan baik," ujar Pramono pada kesempatan tersebut.
Pengembangan kawasan religi ini digagas oleh pihak swasta, namun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap keharmonisan antarumat beragama di wilayah tersebut dapat terus terpelihara. Kehadiran empat rumah ibadah yang berdampingan—kelenteng, masjid, gereja, dan vihara—menjadi representasi konkret dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. "Kalau ada empat tempat ibadah di sini dan kemudian rukun, inilah cermin yang sebenarnya harus diakui, walaupun ini dikelola oleh swasta tapi ini adalah cermin keberagaman yang ada di Indonesia," tegas Pramono.
Lebih dari sekadar fungsi keagamaan, proyek infrastruktur spiritual ini juga diproyeksikan memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi Jakarta. Kawasan religi terpadu ini berpotensi besar menjadi destinasi wisata baru yang menarik, tidak hanya bagi umat beragama tetapi juga bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung keunikan toleransi di Indonesia. Potensi ini dapat mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar area, serta menciptakan lapangan kerja baru.
Untuk mendukung potensi tersebut, pemerintah daerah saat ini tengah mengkaji pengembangan jaringan transportasi publik menuju Riverwalk Island PIK. Salah satu opsi strategis yang masuk dalam kajian adalah pembangunan jalur Light Rail Transit (LRT) yang terhubung langsung hingga ke area PIK 2. Konektivitas transportasi yang semakin baik diharapkan dapat mempermudah akses publik, meningkatkan kunjungan, dan mengoptimalkan keuntungan ekonomi dari kawasan ini.
Secara visual, Kelenteng Tian Fu Gong menampilkan arsitektur Tionghoa klasik yang memukau, didominasi pilar-pilar merah cerah dan ukiran detail yang khas. Altar utamanya dihiasi patung dewa besar yang anggun dengan jubah emas berkilauan, memancarkan aura spiritual yang kuat. Di sisi lain, Masjid Al-Ikhlas PIK berdiri megah dengan gaya Islam modern, didominasi warna putih bersih, kubah emas yang elegan, serta dua menara tinggi yang menjulang. Kontras arsitektur ini justru menciptakan keindahan tersendiri, menegaskan keragaman yang berpadu.
Peresmian ini menandai langkah maju Jakarta dalam membangun kota yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan adanya kawasan religi terpadu di PIK, Jakarta tidak hanya menawarkan infrastruktur modern dan pertumbuhan ekonomi yang pesat, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kerukunan. Ini adalah investasi jangka panjang dalam modal sosial yang akan memperkuat fondasi kebangsaan di tengah dinamika perkotaan yang kompleks.