Marsiyah Salim, seorang perempuan tangguh berusia 105 tahun asal Kediri, Jawa Timur, telah menorehkan babak baru dalam sejarah ibadah haji Indonesia. Ia kini resmi menjadi jemaah haji tertua Indonesia untuk musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi yang berhasil menginjakkan kaki di kota suci Mekah, Arab Saudi. Kedatangan nenek Marsiyah pada Jumat (22/5) pukul 05.45 Waktu Arab Saudi (WAS) ini disambut dengan penuh haru dan kekaguman.
Sesampainya di Mekah, Marsiyah yang tergabung dalam Kloter Embarkasi Surabaya (SUB) 112 langsung menuju akomodasinya di wilayah Raudah. Suasana di Tanah Suci Mekah yang selalu ramai oleh jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia seolah menjadi latar belakang saksi bisu atas penantian panjang Marsiyah. Meskipun usianya telah melewati satu abad, semangat dan ketenangannya terpancar jelas dari raut wajahnya.
"Alhamdulillah. Rasanya ayem (tenang)," ujarnya singkat, namun penuh makna, mencerminkan kedamaian jiwa yang telah lama mendambakan panggilan suci ini. Perasaan "ayem" ini menjadi gambaran umum kebahagiaan para jemaah haji yang akhirnya tiba di Baitullah setelah bertahun-tahun lamanya menanti giliran untuk menunaikan ibadah yang mulia ini.
Kisah perjalanan Marsiyah Salim menjadi sorotan khusus, tidak hanya di Embarkasi Surabaya tetapi juga secara nasional. Lahir pada 1 Juli 1921, ia menjadi representasi dari ribuan jemaah lansia yang gigih menanti kesempatan berhaji. Pendaftaran hajinya dilakukan bersama sang anak pada tahun 2021, dan berkat alokasi kuota prioritas lanjut usia (lansia) yang diterapkan pemerintah, mimpinya akhirnya terwujud di tahun ini. Program prioritas ini memang dirancang untuk memberikan kesempatan kepada jemaah berusia lanjut agar dapat menunaikan ibadah tanpa menunggu terlalu lama.
Keistimewaan Marsiyah tidak hanya terletak pada usianya yang luar biasa, melainkan juga pada kondisi fisiknya yang prima. Tim medis dan petugas haji melaporkan bahwa ia masih mampu berjalan kaki secara mandiri saat turun dari bus, sebelum akhirnya menggunakan kursi roda untuk mobilitas lebih lanjut di area akomodasi. Kebugaran ini diakuinya berkat kebiasaan beraktivitas fisik di lingkungan rumahnya setiap hari.
"Tiap hari jalan-jalan di rumah, ya enggak lama, masih kuat jalan-jalan," tutur Marsiyah dengan senyum tulus. Kebiasaan sederhana namun konsisten ini menjadi kunci vital dalam menjaga stamina tubuhnya di tengah padatnya jadwal ibadah haji yang membutuhkan fisik prima. Kisahnya memberikan inspirasi bahwa usia bukanlah penghalang utama untuk menunaikan rukun Islam kelima ini, asalkan ada niat kuat dan usaha menjaga kesehatan secara berkelanjutan.
Penerbangan menuju Arab Saudi merupakan pengalaman pertama bagi Marsiyah menaiki pesawat terbang seumur hidupnya. Selama durasi perjalanan di udara dari Bandara Internasional Juanda Surabaya menuju Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, ia mengaku terus terjaga. Rasa takjub dan penasaran akan pengalaman perdananya ini membuatnya enggan memejamkan mata, mengamati setiap detail dari ketinggian yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.
"Ya enak toh, orang gak pernah keluar," selorohnya dengan lugu, menunjukkan antusiasme yang luar biasa terhadap hal baru. Proses penerbangan dilaporkan berlangsung aman tanpa kendala berarti, dan Marsiyah menyatakan tidak mengalami kelelahan yang signifikan. Hal ini menunjukkan adaptasi dan ketahanan tubuh yang luar biasa untuk seseorang seusianya dalam menempuh perjalanan panjang melintasi benua.
Namun, di balik kelancaran perjalanannya, tersimpan cerita perjuangan finansial yang mengharukan dan penuh dedikasi. Marsiyah menunaikan ibadah haji dengan biaya yang ia kumpulkan sendiri selama bertahun-tahun, melalui cara yang sangat sederhana namun penuh makna. Ini adalah bukti kegigihan yang patut diacungi jempol, sebuah cerminan semangat juang para jemaah haji Indonesia.
Dengan ketekunan luar biasa, ia mengumpulkan pendapatan dari hasil berjualan jenang, makanan tradisional khas Jawa yang terbuat dari beras ketan. Uang hasil jerih payahnya ini ia simpan sedikit demi sedikit di dalam kaleng, sebuah metode menabung yang umum dilakukan masyarakat pedesaan zaman dahulu. "Saya menabung sedikit-sedikit begitu, saya masukkan kaleng, lalu saya simpan. Nanti kalau ada kurangnya, ditambahkan anak saya," ungkapnya, menggambarkan kegigihan dan dukungan keluarga yang tak terpisahkan dalam mewujudkan impian sucinya.
Kisah tabungan di kaleng ini bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang harapan dan doa yang tak pernah putus selama puluhan tahun. Ini menjadi cerminan dari banyak jemaah haji Indonesia lainnya yang berjuang keras mengumpulkan bekal demi panggilan Baitullah. Dukungan penuh dari anak keduanya yang turut mendampingi juga menjadi faktor penting dalam kelancaran seluruh proses, mulai dari pendaftaran hingga keberangkatan dan selama di Tanah Suci.
Berdasarkan jadwal operasional, Marsiyah yang didampingi oleh anak keduanya akan melaksanakan ibadah umrah wajib pada Jumat (22/5) malam sekitar pukul 22.00 WAS. Umrah wajib merupakan salah satu rangkaian penting yang harus diselesaikan jemaah sebelum memasuki puncak ibadah haji. Setelah menyelesaikan rangkaian tersebut, ia dijadwalkan bergabung dengan jutaan jemaah global dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan inti ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah mendatang, sebuah momen spiritual yang menjadi puncaknya haji.
Kehadiran Marsiyah Salim di Tanah Suci bukan sekadar catatan statistik usia, melainkan sebuah narasi inspiratif tentang iman yang kokoh, kesabaran yang tak terbatas, dan determinasi yang luar biasa. Ceritanya mengingatkan kita bahwa niat suci dan upaya tak kenal lelah dapat menembus segala batasan, termasuk usia, untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia sendiri terus berupaya memberikan pelayanan terbaik, khususnya bagi jemaah lansia, memastikan mereka dapat menunaikan ibadah dengan nyaman, aman, dan khusyuk di setiap tahapan.
Perjalanan Marsiyah Salim dari desa kecil di Kediri hingga ke pelataran Ka’bah di Mekah adalah bukti nyata bahwa impian suci dapat terwujud bagi siapa saja yang berpegang teguh pada keyakinan. Kisah ini akan terus menjadi kenangan berharga dan motivasi bagi generasi mendatang untuk tidak pernah menyerah pada cita-cita spiritual, sekaligus menunjukkan betapa agungnya panggilan ibadah haji bagi umat Muslim di seluruh dunia.