Sunter Jaya Darurat Sampah: Tumpukan Limbah Tiga Meter Cekik Roda Ekonomi Warga

Tumpukan sampah menggunung setinggi tiga meter di Tempat Penampungan Sementara (TPS) RW 09 Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, telah menciptakan krisis lingkungan dan ekonomi bagi warga sekitar. Sejak sebulan terakhir, aroma busuk dan kondisi kumuh ini secara drastis memukul roda perekonomian para pelaku usaha di Jalan Sunter Kemayoran, seperti yang terpantau pada Senin (18/5/2026). Limbah padat yang meluber hingga ke badan jalan dan genangan air lindi kotor menjadi pemandangan sehari-hari yang memprihatinkan.

Aswal (35), pemilik usaha pencucian sepeda motor yang lokasinya persis di sebelah TPS, merasakan dampak paling parah. Jumlah konsumennya anjlok drastis akibat bau menyengat yang tak tertahankan. "Kalau untuk berdampak pasti berdampak banget. Customer pun udah mulai juga malas ke sini karena baunya," keluh Aswal, menggambarkan bagaimana usahanya kini terancam gulung tikar.

Pelanggan setianya bahkan kerap mengeluhkan aroma tak sedap tersebut saat kendaraan mereka dibersihkan. Aswal menceritakan, "Tadi customer bilang ‘ini bau apa’ katanya. Bau sampah dari sebelah. Sampai beliau pun pakai masker dua biji, dobel." Situasi ini jelas mengganggu kenyamanan dan memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan.

Padahal, pada akhir pekan normal, tempat pencucian motornya mampu melayani 40 hingga 50 unit kendaraan. Namun, kini angka tersebut jauh menurun. "Kalau dibilang nurun, pasti. Steam ini udah sebulan lebih parah banget, jatoh, anjlok parah," tambahnya dengan nada getir, menandakan kerugian finansial yang tak sedikit.

Dampak serupa juga menimpa Yanto (40), seorang pedagang tanaman hias yang lapaknya tak jauh dari lokasi penampungan sampah. Ia mengeluhkan invasi kawanan lalat yang mengerubungi dagangannya. "Saya kan jualan tanaman. Tanaman tuh dikerubungin sama lalat. Jadi orang mau ini (beli) enggak tertarik," ujar Yanto, menjelaskan bagaimana hama ini merusak daya tarik produknya.

Baca Juga :  Momen Krusial Haji 2026: Petugas PPIH Siap Pindah Fokus Layanan ke Armuzna, Prioritaskan Jemaah Lansia.

Menurut penuturan Yanto, masalah penumpukan limbah ini sudah berlangsung lama, bahkan sebelum momen Lebaran tiba. Bau busuk dan lalat yang beterbangan membuat calon pembeli enggan mendekat. "Mau belanja enggak (tertarik) karena tempatnya dekat sampah, bau banget gitu," katanya, menegaskan betapa kondisi ini mengusir pelanggan potensial.

Akibat serbuan lalat, beberapa komoditas tanaman hias yang dijual Yanto bahkan mengalami kerusakan fisik, menurunkan nilai jualnya. "Udah bener-bener ini udah parah banget. Dari habis Lebaran tuh kayaknya bener-bener," tambahnya, menunjukkan frustrasi atas kondisi yang tak kunjung membaik. Krisis ini bukan hanya tentang bau, tetapi juga ancaman nyata bagi keberlangsungan usaha kecil.

Kondisi fisik TPS juga menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah, dengan tembok pembatas bercat hijau yang telah runtuh. Sebuah alat berat jenis ekskavator disiagakan di lokasi, bukan untuk mengangkut sampah, melainkan hanya untuk mendorong material agar tidak sepenuhnya menutup akses jalan raya. Ini merupakan solusi temporer yang jauh dari kata efektif dalam mengatasi akar masalah.

Kholil (57), seorang warga setempat, membenarkan bahwa penumpukan sisa makanan dan material plastik ini sudah berlangsung hampir dua pekan tanpa penanganan memadai. "Kalau buat kondisinya, bener parah. Ya (menutupi) separuh jalan nih. Baru didorong itu," jelas Kholil, menggambarkan betapa limbah telah memakan sebagian badan jalan.

Faktor utama yang diduga menjadi pemicu terhambatnya proses evakuasi limbah ke tempat pembuangan akhir adalah keterbatasan jumlah armada truk pengangkut. "Emang jarang diangkat. Alasannya angkutannya nggak ada, mobilnya. Mereka itu pada alasan pada rusak, rusak, dan rusak," tutur Kholil, menyiratkan adanya masalah manajemen dan pemeliharaan armada yang perlu segera diatasi oleh pihak berwenang.

Situasi di Sunter Jaya ini menjadi cerminan tantangan besar dalam pengelolaan sampah perkotaan di Jakarta. Tanpa solusi yang komprehensif dan berkelanjutan, bukan hanya sektor ekonomi lokal yang terancam, tetapi juga kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan hidup akan terus tergerus oleh tumpukan limbah yang tak terurus. Pemerintah daerah perlu segera bertindak cepat untuk mengatasi krisis ini dan mencegah dampaknya meluas.

Baca Juga :  Tuntutan Mengguncang Nadiem Makarim: 18 Tahun Penjara dan Triliunan Rupiah dalam Skandal Korupsi Laptop Pendidikan