Detik-detik Mencekam di Bandara Split: Pesawat Croatia Airlines Tergelincir Saat Hendak Lepas Landas

Sebuah insiden penerbangan mengejutkan terjadi di Bandara Split, Kroasia, pada Sabtu sore, 16 Mei 2026, ketika sebuah pesawat Airbus A220-300 milik maskapai nasional Croatia Airlines tergelincir keluar dari landasan pacu. Pesawat dengan nomor registrasi 9A-CAN tersebut sedang bersiap untuk mengoperasikan penerbangan OU412 menuju Frankfurt, Jerman, saat kejadian tak terduga itu berlangsung. Momen-momen kritis itu terekam kamera, menunjukkan pesawat sempat oleng sebelum akhirnya berhenti.

Insiden ini bermula ketika pesawat, yang membawa 130 penumpang dan lima awak kabin, mulai melaju di landasan pacu untuk lepas landas. Pada kecepatan sekitar 131 knot, pilot memutuskan untuk membatalkan proses lepas landas, sebuah prosedur yang dikenal sebagai rejected takeoff (RTO). Keputusan cepat ini diambil demi keselamatan, meskipun belum diketahui secara pasti penyebab yang mendasari pembatalan tersebut.

Akibat pengereman mendadak dan manuver pembatalan, pesawat keluar dari jalur landasan dan berhenti di area sisi landasan pacu, tepatnya di permukaan rumput yang berdekatan. Beruntungnya, tidak ada laporan mengenai cedera serius yang dialami oleh penumpang maupun kru pesawat. Seluruh 135 individu di dalamnya dipastikan selamat, sebuah kabar melegakan di tengah situasi yang menegangkan.

Manajemen Croatia Airlines segera mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengonfirmasi kejadian tersebut. "Pesawat Airbus A220-300 Croatia Airlines, registrasi 9A-CAN, yang dijadwalkan mengoperasikan penerbangan internasional reguler hari ini OU412 dari Split ke Frankfurt, membatalkan lepas landas di Bandara Split. Semua penumpang dan awak pesawat aman, dan tidak ada laporan cedera," demikian bunyi pernyataan maskapai, sebagaimana dikutip oleh Croatia Week pada Selasa, 19 Mei. Pihak maskapai juga menegaskan bahwa langkah pembatalan lepas landas tersebut telah dilakukan sesuai dengan prosedur keselamatan resmi yang berlaku ketat dalam dunia penerbangan.

Baca Juga :  Prabowo Dorong Penyelamatan Rp49 Triliun: Sinyal Keras Bersih-Bersih Keuangan Negara dari Aset Terlantar

Menyusul insiden tersebut, proses evakuasi segera dilakukan dengan sigap. Seluruh penumpang dibawa kembali ke terminal bandara untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, termasuk dukungan psikologis dan pengaturan ulang jadwal perjalanan. Ini merupakan bagian dari protokol standar untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan penumpang setelah mengalami kejadian traumatis.

Saat ini, koordinasi intensif terus dijalin antara manajemen Croatia Airlines, pengelola Bandara Split, tim layanan darurat, dan otoritas penerbangan terkait. Fokus utama mereka adalah pada keselamatan semua pihak yang terlibat, sementara investigasi mendalam mengenai penyebab pasti insiden masih terus berjalan. Otoritas penerbangan sipil Kroasia telah menerima laporan resmi dan diharapkan segera memulai penyelidikan komprehensif.

Petugas layanan darurat, termasuk tim penyelamat dan pemadam kebakaran, segera dikerahkan ke lokasi kejadian. Mereka bertugas untuk mengamankan area, memeriksa kondisi pesawat, serta melakukan upaya pemindahan badan pesawat dari sisi landasan pacu. Proses evakuasi pesawat memerlukan peralatan khusus dan keahlian teknis untuk memastikan tidak ada kerusakan lebih lanjut pada struktur pesawat atau infrastruktur bandara.

Dampak dari insiden ini tidak hanya terbatas pada penerbangan OU412. Operasional penerbangan di Bandara Split sempat mengalami gangguan signifikan selama beberapa jam. Aktivitas penerbangan di bandara baru dapat dibuka kembali pada sore hari setelah pesawat berhasil dievakuasi dan landasan dinyatakan aman. Namun, sejumlah jadwal penerbangan lainnya terpaksa dibatalkan, dialihkan ke bandara terdekat, atau mengalami keterlambatan parah hingga malam hari, menyebabkan ketidaknyamanan bagi ratusan penumpang lainnya.

Insiden rejected takeoff seperti ini, meskipun jarang terjadi, adalah bagian dari skenario darurat yang selalu dilatih oleh pilot. Keputusan untuk membatalkan lepas landas di kecepatan tinggi merupakan indikasi adanya potensi bahaya yang terdeteksi oleh pilot atau sistem pesawat, dan tindakan tersebut seringkali menjadi penyelamat. Investigasi akan menganalisis data penerbangan, rekaman kokpit, serta kondisi teknis pesawat untuk menentukan akar permasalahan. Kejadian ini menjadi pengingat penting akan kompleksitas dan tantangan dalam menjaga standar keselamatan penerbangan yang sangat tinggi.

Baca Juga :  Lebih dari Sekadar Lokasi: Memahami Perbedaan Esensial Tahanan Rumah dan Tahanan Rutan Menurut Hukum