Bandung, 21 Mei 2026 – Isu anarkisme di kalangan generasi muda menjadi sorotan serius berbagai pihak, mendorong aktivis sosial asal Bandung, Diah Permata Saraswati, untuk menginisiasi sebuah seminar edukatif. Bertajuk "Generasi Muda: Obor Perjuangan, bukan Api Kerusuhan," acara ini digelar bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional, Kamis (21/5), di Gedung Indonesia Menggugat yang bersejarah. Inisiatif ini merupakan wujud kepedulian mendalam terhadap peran krusial pemuda sebagai pilar keberlanjutan pembangunan nasional.
Seminar yang digagas oleh Rumah Saraswati ini bertujuan untuk membedah akar persoalan yang menjerat generasi muda dalam tindakan destruktif. Pemilihan Hari Kebangkitan Nasional sebagai tanggal pelaksanaan menambah makna, mengingatkan kembali semangat perjuangan para pendahulu bangsa yang juga dimotori oleh kaum muda. Diharapkan, semangat ini dapat direfleksikan dalam bentuk kontribusi positif, bukan aksi-aksi anarkis yang merugikan.
Dilansir dari laporan Media Indonesia, forum dialog interaktif ini menghadirkan sejumlah narasumber lintas sektor yang kompeten di bidangnya. Mereka adalah Rafael Situmorang, Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, Dani Hadianto dari Kesbangpol Jawa Barat, dan Anjar Yusdinar, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AKB Jawa Barat. Turut hadir pula aktivis Yoga Zara yang memperkaya diskusi dengan pandangan praktisnya.
Diah Permata Saraswati, pendiri Rumah Saraswati, mengungkapkan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan mendalam atas maraknya kasus kerusuhan yang melibatkan anak muda. Insiden-insiden tersebut, baik di Bandung maupun di berbagai wilayah Jawa Barat, menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan edukasi dan pembinaan karakter. "Kami ingin mencari tahu akar persoalan yang membuat generasi muda terjebak dalam tindakan anarkistis," ujar Diah.
Melalui forum edukatif seperti ini, Diah berharap anak-anak muda dapat memperoleh informasi positif yang berfungsi sebagai pembanding. Ini penting untuk melawan narasi negatif atau pengaruh buruk yang mungkin mereka temui di lingkungan luar. Menurutnya, tindakan anarkisme yang melibatkan pelajar dan remaja memerlukan penanganan serius dan terstruktur dari berbagai elemen masyarakat.
Rumah Saraswati, sebagai komunitas yang fokus pada isu perempuan dan anak, berkomitmen menyediakan wadah diskusi produktif. Dengan slogan "Bermain dan Belajar, Sekolah Tanpa Kelas," lembaga ini menerapkan konsep pendidikan alternatif yang berfokus pada anak-anak usia sekolah. Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk generasi muda menjadi agen perubahan yang positif dan pemimpin masa depan yang mumpuni.
"Generasi muda adalah estafet kepemimpinan," tegas Diah, "Mereka harus diarahkan agar kelak menjadi pemimpin yang mumpuni." Ia menambahkan keyakinannya bahwa ibu dan anak adalah satu paket yang mampu menciptakan efek domino positif bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Pendidikan karakter sejak dini menjadi kunci dalam membentuk kepribadian yang tangguh dan bertanggung jawab.
Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, Rafael Situmorang, turut memberikan pandangannya mengenai posisi strategis pemuda dalam pembangunan bangsa. Ia menegaskan bahwa kemajuan Indonesia di masa depan sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan generasi masa kini. "Kalau anak-anak mudanya kuat, cemerlang, dan mau berjuang, Republik ini akan semakin maju," kata Rafael penuh optimisme.
Rafael juga menyamakan esensi pergerakan pemuda saat ini dengan risiko perjuangan para pendiri bangsa terdahulu. Ia mencontohkan bagaimana Sukarno sempat dinilai negatif oleh kolonial Belanda demi memperjuangkan kemerdekaan rakyat. "Sama halnya dengan anak muda sekarang, perjuangan mereka bisa dipandang berbeda, namun esensinya tetap untuk kemajuan bangsa tanpa mengedepankan perilaku anarkis," ungkapnya, menekankan pentingnya esensi perjuangan yang konstruktif.
Inisiatif seminar ini dirancang sebagai sarana efektif untuk mencegah pemuda terlibat dalam aksi-aksi destruktif. Melalui kolaborasi apik antara Rumah Saraswati, DPRD Jawa Barat, Kesbangpol, dan DP3AKB, seminar ini diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif. Tujuannya adalah menciptakan masa depan bangsa yang lebih baik, di mana generasi muda menjadi pilar kekuatan, bukan sumber kerusuhan.