Menguak Akar Kemiskinan: Kemensos Luncurkan Sekolah Rakyat Berasrama, Merajut Asa Generasi Penerus

Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia secara ambisius meluncurkan program Sekolah Rakyat berbasis asrama sebagai strategi kunci. Inisiatif strategis ini didesain untuk secara fundamental memutus transmisi kemiskinan antargenerasi, khususnya bagi anak-anak dari keluarga dengan kategori sangat miskin, yaitu Desil 1 dan Desil 2.

Langkah inovatif ini diambil setelah Kemensos menemukan fakta lapangan yang mencengangkan. Banyak calon siswa memiliki latar belakang sosial yang kompleks dan rentan, beberapa di antaranya bahkan tercatat pernah menjadi preman jalanan atau terlibat dalam pekerjaan seperti pemandu lagu karaoke, sebuah realita yang menuntut intervensi serius dan holistik.

Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono, dalam wawancara khusus di Kantor Kemensos, Jakarta, Kamis (21/5/2026), menjelaskan urgensi di balik program ini. Ia menegaskan bahwa latar belakang siswa yang beragam dan menantang ini menjadi fokus utama pemerintah untuk dibina dan diubah secara intensif.

"Contoh misalnya yang sekolah di sekolah-sekolah itu ada yang sudah jadi preman, mohon maaf, ada yang sudah jadi LC, ya macam-macam. Itu harus kita ubah," ujar Agus Jabo Priyono. Program ini dirancang untuk tidak hanya memberikan pendidikan formal, tetapi juga pembentukan karakter dan keterampilan hidup yang esensial.

Penerapan sistem sekolah asrama atau boarding school ini sempat memicu berbagai kritik dan pertanyaan dari masyarakat. Publik mempertanyakan alasan pemerintah tidak memilih untuk memperbaiki fasilitas sekolah reguler yang sudah ada demi menampung anak-anak dari keluarga miskin.

Wamensos Agus Jabo Priyono dengan lugas menjawab kritik tersebut, menjelaskan pertimbangan mendalam di balik keputusan ini. "Kenapa harus boarding? Kan kita dikritik, kenapa tidak diperbaiki saja sekolah-sekolah reguler yang ada, ya kan, mereka anak-anak orang miskin itu masuk ke situ," katanya.

Baca Juga :  Kapan THR 2026 Cair? Cek Jadwal Resmi PNS, Karyawan Swasta, & Aturan Terbaru Kemenaker

Menurut Agus Jabo, kondisi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa Sekolah Rakyat tidak memiliki tempat tinggal yang layak huni. Sanitasi yang buruk, lingkungan yang tidak kondusif, dan nutrisi yang tidak memadai di rumah diyakini dapat secara signifikan mengganggu tumbuh kembang serta kecerdasan anak.

Oleh karena itu, penempatan di asrama khusus dipandang sebagai solusi terbaik untuk menyediakan lingkungan yang stabil dan mendukung. Lingkungan asrama diharapkan dapat menyediakan kondisi yang optimal untuk pendidikan, pengembangan karakter, serta pemenuhan gizi yang layak.

"Kalau di sekolah reguler, habis sekolah itu pulang ke rumah lagi, itu rata-rata rumah orang miskin itu sanitasinya tidak bagus," jelas Agus Jabo. Ia menambahkan bahwa gizi yang buruk dan sanitasi yang tidak memadai dapat secara serius memengaruhi IQ dan pembentukan karakter anak, menghambat potensi mereka.

Faktor ekonomi memang menjadi kendala utama bagi akses pendidikan yang merata di Indonesia, berdasarkan data resmi yang valid. Ketua Umum Partai Rakyat Adil Makmur tersebut memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat keberadaan empat juta anak yang tidak bersekolah di seluruh Indonesia.

Angka ini sangat mengkhawatirkan dan menjadi indikator serius terhadap ketimpangan sosial dan kurangnya kesempatan. Mayoritas orang tua, sekitar 76 persen menurut survei BPS, menyatakan bahwa mereka tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya karena kendala ekonomi yang berat dan tak teratasi.

Lebih lanjut, data BPS juga menunjukkan bahwa hampir 64 persen anak-anak dari orang tua miskin cenderung akan mengikuti jejak kemiskinan orang tua mereka. Ini menegaskan adanya lingkaran setan kemiskinan yang sulit diputus tanpa intervensi komprehensif dan berkelanjutan dari pemerintah.

Program Sekolah Rakyat berasrama ini diharapkan menjadi jawaban strategis atas permasalahan struktural tersebut. Dengan menyediakan pendidikan berkualitas, pembinaan moral, dan lingkungan yang kondusif, Kemensos berupaya memutus rantai kemiskinan yang telah berlangsung turun-temurun dan menciptakan mobilitas sosial.

Baca Juga :  Pemerintah Kesulitan Hubungi Sembilan WNI yang Ditangkap Militer Israel

Melalui integrasi program prioritas ini, pemerintah menetapkan target ambisius untuk menekan angka kemiskinan nasional. Targetnya adalah menurunkan angka kemiskinan hingga berada di bawah 5 persen pada tahun 2029, sebuah pencapaian yang akan sangat signifikan bagi kesejahteraan dan pembangunan bangsa.

Wakil Menteri Sosial juga mengungkapkan adanya instruksi langsung dari Presiden terkait penanganan kemiskinan yang terintegrasi. "Jadi Presiden perintahnya, anaknya kalian sekolahkan, boarding. Orang tuanya kalian berdayakan supaya dapat penghasilan yang layak, ini pengentasan kemiskinan," jelas Agus Jabo.

Instruksi tersebut tidak hanya berfokus pada pendidikan anak, tetapi juga pemberdayaan ekonomi orang tua melalui pelatihan dan modal usaha, serta perbaikan kondisi hunian. "Rumahnya kalian perbaiki, rumah yang tadi kita harus perbaiki," tambahnya, menegaskan pendekatan holistik yang diadopsi pemerintah untuk mengangkat derajat keluarga miskin.

Program ini bukan sekadar memberikan pendidikan formal, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam sumber daya manusia Indonesia yang berkelanjutan. Dengan memastikan akses pendidikan yang berkualitas dan lingkungan yang mendukung, Kemensos bertekad menciptakan generasi baru yang lebih berdaya, terampil, dan sejahtera.

Melalui upaya terpadu dan berkelanjutan ini, diharapkan anak-anak dari keluarga termiskin dapat meraih masa depan yang jauh lebih cerah. Mereka akan dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang kuat, memungkinkan mereka untuk keluar dari jerat kemiskinan dan berkontribusi positif bagi kemajuan pembangunan negara. Inilah wujud nyata komitmen pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.