Dokter Imbau Jemaah Haji Waspadai Kaki Melepuh Akibat Cuaca Ekstrem

Suhu udara di Jeddah dan sekitarnya, terutama saat puncak musim haji, dapat melonjak drastis, seringkali disertai dengan kelembapan rendah yang membuat udara terasa sangat kering dan panas menyengat. Kondisi ini diperparai oleh paparan langsung ke permukaan aspal atau lantai yang dapat mencapai suhu 60 hingga 70 derajat Celsius. Paparan suhu ekstrem ini menjadi pemicu utama kerusakan kulit pada telapak kaki jemaah, yang bisa berujung pada cedera serius.

Dokter Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, seorang dokter dari Sektor 1 Daerah Kerja (Daker) Bandara, telah memberikan peringatan keras kepada para jemaah haji. Menurutnya, udara panas di Arab Saudi tidak hanya menyebabkan kulit kering, tetapi juga secara signifikan merusak daya tahan dan elastisitas kulit pada telapak kaki. "Kondisi udara yang sangat kering dan panas di Saudi tidak hanya membuat kulit haus, tapi juga merusak elastisitas telapak kaki," jelas dr. Fathi. Ia menambahkan bahwa kaki yang pecah-pecah menjadi sangat rentan mengalami luka bakar atau melepuh saat terpapar suhu permukaan aspal atau lantai yang bisa mencapai 60-70 derajat Celsius.

Kondisi kulit yang kehilangan kelembapan secara drastis akan lebih mudah retak dan pecah-pecah. Retakan ini, meskipun kecil, dapat menjadi pintu masuk bagi kuman dan bakteri, memicu infeksi yang menyakitkan. Lebih jauh, luka bakar derajat dua dapat muncul dalam waktu singkat jika kulit dalam keadaan tidak lembap dan terus-menerus terpapar panas ekstrem. Rasa nyeri yang hebat akibat luka melepuh atau infeksi tentu akan sangat mengganggu kekhusyukan dan kelancaran rangkaian ibadah haji, yang menuntut mobilitas tinggi.

Mengantisipasi risiko ini, petugas kesehatan di berbagai sektor layanan haji telah merumuskan panduan mitigasi. Langkah pencegahan menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan kaki para jemaah. Pertama, penggunaan alas kaki yang nyaman dan sudah sering dipakai sangat dianjurkan. Alas kaki yang pas dan tidak menimbulkan gesekan berlebihan akan mengurangi risiko lecet dan iritasi. Kedua, rutin mengoleskan pelembap pada kaki, terutama telapak kaki, sangat penting untuk menjaga kelembapan kulit di tengah udara kering.

Baca Juga :  Libur Panjang Lebih Leluasa: KAI Commuter Tingkatkan Frekuensi KRL Solo-Jogja, Catat Jadwal Lengkapnya!

Selain itu, penggunaan kaus kaki menjadi pelindung tambahan yang efektif. Kaus kaki dapat membantu mempertahankan kelembapan kulit dan melindungi kaki dari gesekan langsung dengan alas kaki atau permukaan panas. Dr. Fathi juga menekankan pentingnya membawa kantong sandal sendiri saat bepergian, khususnya ke area masjid. Kehilangan alas kaki di area yang padat seringkali membuat jemaah terpaksa berjalan tanpa pelindung di atas lantai panas, yang berakibat fatal. "Jika keluar masjid dan sandal hilang, jangan nekat berjalan di atas lantai yang panas. Segera hubungi petugas atau rekan untuk bantuan," tegasnya.

Periode paling berisiko tinggi untuk cedera kaki adalah antara pukul 10.00 hingga 16.00 waktu setempat, saat matahari bersinar paling terik. Area terbuka seperti pelataran Masjidil Haram, Masjid Nabawi, terminal bandara, dan jalur menuju Jamarat di Mina, adalah lokasi-lokasi yang paling rentan memiliki suhu permukaan ekstrem. Di sinilah jemaah seringkali melakukan aktivitas berjalan kaki dalam durasi yang panjang, seperti tawaf, sa’i, atau melontar jumrah, yang sangat menguji ketahanan fisik dan kaki.

Apabila cedera berupa luka melepuh sudah terjadi, jemaah diimbau keras untuk tidak melakukan penanganan mandiri. Memecahkan lepuhan secara sembarangan justru berisiko memperburuk kondisi luka dan memicu infeksi terbuka. "Jika kulit kaki sudah terlanjur melepuh, jangan pernah dipecahkan sendiri karena akan memicu infeksi terbuka. Segera lapor ke petugas kesehatan terdekat," pesan dr. Fathi. Tim medis di pos-pos kesehatan haji telah terlatih untuk menangani kondisi seperti ini dengan steril dan tepat.

Kesehatan kaki memegang peranan vital dalam mendukung seluruh rangkaian ibadah haji. Dari tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Safa dan Marwah, hingga perjalanan ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina untuk melontar jumrah, semuanya menuntut kondisi kaki yang prima. Melindungi kaki berarti menjaga kelancaran ibadah dan memastikan jemaah dapat menunaikan seluruh rukun haji dengan sempurna. "Kaki adalah tumpuan utama dalam ibadah haji. Melindungi kaki berarti menjaga kelancaran rangkaian ibadah haji. Mencegah kaki dari pecah-pecah dan melepuh jauh lebih mudah daripada mengobatinya," pungkas dr. Fathi, mengingatkan pentingnya persiapan dan kewaspadaan dini bagi setiap jemaah haji. Dengan persiapan yang matang dan perhatian terhadap detail kesehatan, diharapkan setiap jemaah dapat kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur, sehat wal afiat.

Baca Juga :  Indonesia Gaungkan Mendesak: Solidaritas Global Kunci Selamatkan Hutan di Tengah Geopolitik Kompleks