Revolusi Hijau di Batu Ampar: Lahan Sampah Ilegal Kini Berbuah Lumbung Pangan ‘Saung Aset’

Jakarta Timur kembali menunjukkan inovasinya dalam pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Sebuah lahan bekas pembuangan sampah ilegal di Kramat Jati, Kelurahan Batu Ampar, yang selama bertahun-tahun dikenal kumuh dan berbau tak sedap, kini telah bertransformasi total menjadi kawasan pertanian perkotaan (urban farming) produktif bernama Saung Aset. Perubahan drastis ini tidak hanya mengatasi persoalan sampah liar, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal serta menjadi contoh nyata pemanfaatan aset daerah yang mangkrak.

Transformasi menakjubkan ini diinisiasi oleh Pemerintah Kelurahan Batu Ampar dan resmi diluncurkan pada Jumat, 15 Mei, belum lama ini. Lokasi strategis di samping RPTRA Udara Segar yang dulunya terbengkalai dan menjadi sarang sampah, kini ditanami beragam komoditas pangan. Kangkung, cabai, jagung, dan terong tumbuh subur, siap memenuhi kebutuhan gizi warga sekitar.

Kasi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Batu Ampar, Isra Nur Hikmah, menceritakan sejarah panjang lahan tersebut. Sejak dirinya masih kecil, area ini sudah dikenal sebagai lokasi yang kumuh dan sumber aroma tak sedap yang mengganggu. Bahkan, ketika RPTRA dibangun di sebelahnya pada era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, lahan ini tetap terbengkalai dan sempat muncul klaim kepemilikan dari berbagai pihak tak bertanggung jawab, bahkan hingga dimanfaatkan untuk pemancingan ilegal.

Upaya pengambilalihan lahan oleh Pemerintah Kota Jakarta Timur berhasil dilakukan pada tahun 2022. Namun, proses pengamanan aset daerah ini tidak berjalan mulus. Isra Nur Hikmah menuturkan, setelah pemasangan plang aset dan pengecatan tembok pembatas kawasan, sempat terjadi aksi vandalisme. "Setelah kami mengecat tembok depan sampai selesai jam setengah lima sore, besok paginya muncul tulisan ‘Ini bukan milik Pemerintah Daerah’ disertai kata-kata tidak pantas. Padahal plangnya jelas milik Pemerintah Daerah," kenangnya.

Baca Juga :  KPK Telusuri Aliran Dana Bea Cukai Terkait Pita Cukai Rokok

Gagasan konkret untuk membangun urban farming di lokasi ini baru muncul pada akhir tahun 2023. Ide cemerlang ini bermula dari laporan warga melalui aplikasi JAKI mengenai tumpukan sampah liar yang tak terurus. "Saya masuk sini akhir 2023. Kebetulan ada aduan pembuangan sampah lewat JAKI. Dari situ muncul ide membuat urban farming. Saya minta bantuan teman-teman PPSU untuk membuatnya," jelas Isra.

Proses pembersihan dan persiapan lahan bukanlah pekerjaan mudah. Kondisi awal lokasi benar-benar didominasi oleh tumpukan sampah yang telah tertimbun, sehingga tanah yang ada tidak layak untuk pertanian. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Batu Ampar berkolaborasi dengan Satuan Pelaksana Pertamanan, Sumber Daya Alam (SDA), dan Bina Marga untuk mendatangkan tanah baru dan meratakan lahan. "Kondisi awal benar-benar nol karena yang ada hanya sampah, bukan tanah. Tanah didapat dari kolaborasi dengan Satuan Pelaksana Pertamanan dan Sumber Daya Alam yang membantu meratakan. Bina Marga juga ikut berkolaborasi. Akhirnya terbentuk urban farming ini," ungkap Isra.

Kini, Saung Aset tak hanya menjadi solusi masalah sampah, tetapi juga pusat pasokan pangan bagi masyarakat setempat. Hasil panen dari lahan ini didistribusikan melalui dua mekanisme: pembagian gratis kepada warga yang membutuhkan dan penjualan hasil tani. Keberadaan Saung Aset juga secara efektif meniadakan tempat pembuangan sampah liar, sebuah isu krusial mengingat Kelurahan Batu Ampar tidak memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS) resmi. "Tempat pembuangan yang ada saat ini bukan Tempat Pembuangan Sementara resmi pemerintah, sifatnya ilegal. Warga langsung membuang ke depo Lingkungan Hidup di Cililitan, diangkut oleh petugas sampah dari masyarakat," terang Isra.

Saung Aset menawarkan pengalaman unik bagi warga dengan konsep wisata tani. Masyarakat dapat terlibat langsung dalam proses panen, memetik sayuran secara mandiri. Untuk menarik minat pengunjung, pengelola menyediakan perlengkapan tambahan seperti topi caping, menciptakan nuansa pedesaan di tengah kota. "Sistemnya unik, warga mencabut sendiri. Kami pinjamkan topi caping, mereka bisa selfie. Rasanya seperti di desa," ujar Isra. Sebagian hasil panen juga didistribusikan kepada warga yang membutuhkan, sementara sisanya dijual untuk menutupi biaya operasional.

Baca Juga :  Prabowo Dorong Penyelamatan Rp49 Triliun: Sinyal Keras Bersih-Bersih Keuangan Negara dari Aset Terlantar

Dana yang terkumpul dari hasil penjualan sayur dan ikan sepenuhnya digunakan kembali untuk keberlangsungan lahan, termasuk pembelian bibit dan pupuk. Meskipun ada bantuan dari Suku Dinas terkait, jumlahnya terbatas. Oleh karena itu, perputaran uang dari penjualan sangat vital untuk menopang kebutuhan operasional Saung Aset yang tidak memiliki anggaran khusus. Kisah Saung Aset di Batu Ampar menjadi inspirasi bahwa dengan kolaborasi, inovasi, dan semangat komunitas, lahan yang tadinya bermasalah bisa disulap menjadi sumber daya yang berharga bagi kota dan warganya.