Ritual Thudong, atau Dhutanga dalam bahasa Pali, merupakan praktik asketis kuno yang dijalankan oleh para biksu Buddha, khususnya dalam tradisi Theravada. Praktik ini melibatkan perjalanan kaki jarak jauh tanpa bekal materi berlebih, bertujuan untuk melatih kesederhanaan, ketahanan fisik, serta memperdalam meditasi dan pemahaman dharma. Para biksu menjalani disiplin ketat, termasuk hanya makan sekali sehari dan tidur di tempat terbuka, sebagai upaya penyucian diri dan pencarian pencerahan spiritual. Di era modern, tradisi ini semakin menarik perhatian publik sebagai manifestasi nyata dari dedikasi spiritual yang luar biasa.
Bagi umat Buddha, perjalanan Thudong bukan sekadar napak tilas geografis, melainkan sebuah metafora perjalanan batin yang penuh tantangan dan pembelajaran. Ini adalah kesempatan untuk melepaskan keterikatan duniawi dan mendekatkan diri pada esensi ajaran Buddha, sekaligus menyebarkan pesan kedamaian dan kasih sayang sepanjang rute yang dilalui.
Perjalanan Thudong yang unik ini dimulai dari Pulau Bali, menyeberangi laut dan daratan hingga akhirnya mencapai Solo, yang menjadi salah satu titik persinggahan penting. Kehadiran 57 biksu dari empat negara—yakni Malaysia, Burma (Myanmar), Thailand, dan Indonesia—menjadi penanda istimewa dalam sejarah pelaksanaan ritual ini di tanah air. Ini adalah kali pertama prosesi lintas provinsi seperti ini melibatkan partisipasi biksu mancanegara dalam skala besar menuju Solo, menandakan semakin kuatnya persaudaraan Sangha global.
Pandita Muda Metasari Sutrisno, juru bicara Perayaan Waisak 2026, menegaskan keistimewaan momentum ini. "Ini pertama kalinya para biksu dari empat negara menjalani ritual Thudong dari Bali kemudian masuk ke Kota Solo," ujarnya, menyoroti dimensi baru dalam perayaan Waisak tahun ini. Rombongan dari luar negeri ini kemudian bergabung dengan biksu domestik yang telah tiba dari berbagai daerah di Jawa Timur, membentuk satu kesatuan spiritual yang harmonis.
Setelah menempuh ribuan kilometer, setibanya di Kota Solo, rombongan biksu Thudong langsung disambut hangat dan mendatangi Vihara Dharma Sundara di Pucang Sawit, Jebres. Di vihara ini, mereka melaksanakan ritual sakral membasuh kaki, sebuah simbolisasi penyucian diri yang mendalam sebelum melanjutkan rangkaian ibadah dan perjalanan. Momen ini menjadi kesempatan bagi masyarakat Solo untuk berinteraksi langsung dengan para biksu, menunjukkan kerukunan antarumat beragama yang kental dan dukungan terhadap perjalanan spiritual yang monumental ini.
Selama masa transit di Solo, seluruh biksu juga melangsungkan puja bakti atau doa bersama di hadapan Sang Buddha, memohon berkah dan kelancaran untuk sisa perjalanan. Setelah itu, perjalanan mereka berlanjut ke Pura Mangkunegaran, salah satu ikon budaya dan sejarah Kota Solo yang sarat makna. Di sana, mereka diterima langsung oleh Pengageng Pura Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegoro X, yang menunjukkan dukungan dan penghormatan terhadap keberagaman spiritual di Indonesia. Penerimaan di lingkungan keraton ini tidak hanya menggarisbawahi peran Solo sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan pelestarian tradisi, tetapi juga menyatukan dimensi spiritual dengan kekayaan budaya Jawa.
Dari Pura Mangkunegaran, rombongan bergerak menuju Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo. Lokasi ini menjadi titik persiapan penting sebelum dimulainya Kirab Budaya Waisak yang telah dinanti-nantikan oleh masyarakat. Kirab budaya ini bukan hanya prosesi keagamaan, tetapi juga sebuah tontonan yang memperkaya khazanah budaya kota, melibatkan partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat dalam menyemarakkan perayaan.
Prosesi kirab budaya dijadwalkan dimulai pada pukul 18.00 WIB, menyusuri jalanan kota Solo yang ikonik menuju Balai Kota Solo. Sepanjang rute kirab, ribuan warga Solo diperkirakan akan tumpah ruah di jalanan, memberikan sambutan meriah dan dukungan moral kepada para biksu yang gigih. Sesampainya di Balai Kota sekitar pukul 19.00 WIB, para biksu sangha bersama seluruh umat yang hadir akan melaksanakan ritual pemandian rupang Buddha, sebuah prosesi sakral yang diperkirakan memakan waktu selama dua jam, penuh dengan kekhidmatan dan doa.
Seluruh rangkaian kegiatan para biksu di Kota Solo dijadwalkan selesai pada Minggu pagi (24/5). Pada pukul 08.30 WIB, rombongan biksu Thudong akan dilepas secara resmi dari Balai Kota Solo, melanjutkan perjalanan spiritual mereka menuju Kabupaten Klaten. Keberangkatan ini memanfaatkan momentum Car Free Day (CFD) Solo, yang memungkinkan para biksu berjalan kaki searah melintasi Jalan Slamet Riyadi bagian selatan dengan aman dan diiringi dukungan masyarakat yang antusias.
Perjalanan Thudong ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah ekspresi mendalam dari keyakinan dan dedikasi. Ini juga menjadi simbol persatuan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia, khususnya menjelang Hari Raya Waisak 2026. Kehadiran para biksu lintas negara di Solo memberikan warna tersendiri, memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya dan spiritual, sekaligus menjadi pengingat akan nilai-nilai kedamaian dan harmoni yang universal bagi seluruh umat manusia.