Mbah Marsiyah, jemaah haji asal Kediri, Jawa Timur, mencuri perhatian dengan semangatnya yang luar biasa. Di usianya yang telah menginjak 104 tahun, beliau bersiap untuk menunaikan puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah, sebuah momen sakral yang menjadi inti dari seluruh rangkaian haji.
Perjalanan spiritual Mbah Marsiyah dan jutaan jemaah lainnya dimulai secara bertahap dari Makkah pada Senin, 25 Mei 2026. Mereka akan bergabung dalam lautan manusia di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf yang dijadwalkan pada Selasa, 26 Mei 2026.
Meski usianya sudah sangat senja, Mbah Marsiyah menunjukkan kesiapan fisik dan mental yang mengagumkan. Didampingi putrinya, Nuriah (63), ia mengungkapkan kebahagiaan mendalam menjelang momen bersejarah ini.
"Alhamdulillah, atiku marem (hatiku senang)," ujar Mbah Marsiyah kepada tim Media Center Haji (MCH) di depan Hotel Luluat Al Sharq Al Awsat. Ungkapan tulus itu menggambarkan betapa besar impiannya untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima ini.
Selama menjalankan ibadah haji, mobilitas sehari-hari Mbah Marsiyah memang dibantu dengan kursi roda. Namun, hal itu tidak mengurangi semangatnya sedikit pun untuk mengikuti setiap tahapan ibadah.
Kondisi kesehatan terkini dari jemaah lansia ini juga telah dipastikan dalam keadaan baik dan siap oleh petugas kloter. Ketua Kloter 112 Embarkasi Surabaya (SUB 112), Abiswatun Nadhiroh, menegaskan bahwa Mbah Marsiyah dalam keadaan sehat untuk mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji.
Wukuf di Arafah sendiri merupakan pilar utama ibadah haji, bahkan Nabi Muhammad SAW bersabda, "Haji adalah Arafah." Tanpa wukuf, haji seseorang tidak sah. Di sinilah para jemaah akan berdiam diri, berdoa, dan memohon ampunan Allah SWT, merenungkan diri di padang luas yang menjadi saksi pertemuan Nabi Adam dan Hawa.
Momen wukuf adalah refleksi kemanusiaan, di mana semua jemaah, tanpa memandang ras, status sosial, atau kekayaan, berdiri sejajar di hadapan Tuhan. Ini adalah waktu untuk introspeksi, penyesalan atas dosa, dan memohon keberkahan.
Bagi jemaah lansia seperti Mbah Marsiyah, tantangan ibadah haji, terutama di Arafah, tidaklah mudah. Suhu panas yang ekstrem, keramaian, dan tuntutan fisik menjadi ujian tersendiri. Namun, semangat Mbah Marsiyah menjadi inspirasi bagi banyak orang akan kekuatan iman dan tekad.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama dan tim MCH telah menyiapkan berbagai fasilitas dan pelayanan khusus bagi jemaah lansia. Prioritas layanan, pendampingan intensif, serta fasilitas kesehatan yang memadai menjadi perhatian utama demi kelancaran ibadah mereka.
Kisah Mbah Marsiyah bukan hanya tentang seorang individu yang menunaikan ibadah, tetapi juga cerminan dari jutaan umat Muslim Indonesia yang mendambakan perjalanan suci ini. Ia menjadi simbol keteguhan hati dan bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencapai impian spiritual.
Setelah wukuf, jemaah akan melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah untuk mabit (menginap sejenak) dan kemudian ke Mina untuk melempar jumrah. Seluruh rangkaian ini merupakan puncak dari penantian panjang yang kini telah di depan mata Mbah Marsiyah dan seluruh jemaah haji 2026.